Sunday, February 16, 2014

Sahabat Barangkali

Teruntuk Ros,

Semalam akhirnya aku boleh bermimpi. Sudah sekian bulan tidak ada yang lewat di kepala. ini membuatku jenuh. Tapi semalam aku bermimpi. Kita bertemu walau tidak lama. Gambarannya lucu, kamu masih kamu tapi lebih cantik dari waktu itu. Kita berjumpa dan bersitatap pada sebuah truk tentara yang membawa kita entah kemana. Di sekitar tengah ada perang.

Kamu tampak tidak seceria dulu, wajahmu keras tapi tampak lebih dewasa, rambutmu ikal manis jatuh di bahu. Kakimu kau ongkang di atas kursi, mulutmu sibuk melepas asap rokok yang terbawa angin.
Aku tak tahu kalau kamu merokok.
Dan perang, pecah di kiri kanan. Mungkin perang adalah hidup. dan kita sudah terlalu lama hidup.

tapi mimpi semalam yang membuatku menulis ini. Kita tak lagi pernah bertemu sejak 4 tahun itu, hanya rutin mengucap selamat-selamat pada hari besar atau ulang tahun yang sering kali lupa.

Aku ingat dulu kita sering berbicara panjang lebar tentang hidup yang lucu, atau tentang cintamu pada pria ini dan itu. Aku seperti biasa aku, mendengarkan dengan khidmat sesekali menggoda untuk membuatmu jengkel (ini tidak khidmat). Jujur, aku suka mendengarkan kisah hidupmu yang seru. Tentang cita-citamu pergi mencari guru di negri seberang. Tapi toh malah kita yang seperti berseberang.

Apa yang membuat kita berseberang sama sekali? Ini hanya dugaan, mungkin pertanyaan itu. Pertanyaan bercanda yang berubah menjadi tidak. atau setidaknya kau yang menganggapnya tidak, sedang aku cuma angin lalu, sudah lewat.

Setelah percakapan kita pada pesan singkat kamu lalu bertanya,
"Siapa yang kamu cintai waktu itu?". waktu itu artinya (sangat) jauh sebelum ini.
Ini pertanyaan kedua yang kamu lontarkan (sebelumnya beberapa tahun lalu), yang pertama aku menipumu, maaf.
Malam itu aku pikir ini sudah lama maka aku menjawab. "Kamu, waktu itu aku mencintai kamu".
waktu itu belum tentu sekarang.

Tapi, sejak itu kita menjadi orang asing. Aku menjadi orang yang rindu. Tetapi rindu yang kelewatan selalu membuat lupa (bukan berarti tak ada). Dan kita menjadi orang yang lupa untuk bertukar 'halo' juga 'haha'

***

Mungkin rindu itulah yang membawaku pada mimpi tadi malam. Tentang aku yang terkejut bertemu denganmu di truk itu - dan aku masih tertawa membayangkannya.

Atau pada pesan singkat pada tahun baru kemarin.
"Selamat Tahun Baru." katamu.
"Aku sekarang di tempat ini. Mengapa tidak sesekali kita bertemu, aku tunggu." pesanmu.
dan aku terdiam. tidak tanganku, aku membalasnya dengan "ya, nanti kita atur waktu."
benakku yang terdiam.

Apakah nanti kita akan bertemu menjadi seorang yang berbeda sama sekali. menjadi individu-individu yang tidak saling kenal. tak ada yang tahu.
tapi aku rindu pada sahabatku yang satu itu. rindu  pada cekikinya yang ceria pada pada pandang matanya yang melegakan.  sampai pada waktunya, semoga kita boleh bertemu.

Catatan:
Tenang Ros aku tidak mencintaimu seperti dulu (atau aku yang harusnya tenang), maksudnya sebagai sahabat tentu aku menyayangimu. dulu itu cuma cinta bau kencur. Yang aku tahu kamu sedang punya kekasih (atau lebih tepatnya, selalu), kamu adalah orang yang gampang dicintai tapi memang sulit dilupakan (sial). dan aku juga sedang jatuh cinta pada orang lain.
aku hanya ingin datang kepadamu sebagai seorang sahabat, kawan lama yang merindukan seorang yang sempat aku kenal dekat. itu saja. semoga.

satu lagi, semoga aku masih bisa menggoda tahi lalat dan tinggi badanmu.

salam dari kawan lama





"Tidur adalah sikap ikhlas. Ketika hari, entah duka entah suka, selesai."
"Pelukan tak pernah menjebak, kita cuma musti pintar menebak."

#cair


Di tempat kita berdiri. Ada yang sedang mencoba untuk ikhlas.
menerima kenyataan, bahwa tepat kita berpijak semakin sempit.

Lalu, untuk tetap bertahan
kita akan saling mendorong atau berpelukan.

#membuat puisi

Mengapa aku membuat puisi bukan janji-janji?
Karena puisi kawanku,
jujur walau tersirat.
lugu walau tersurat.

sedang janji adalah apa-apa yang gampang kau dan aku sesali.

#Pojok Kafe

Di tempat ini seseorang tengah keras berpikir.
kemana tuju, di mana labuh.
tapi yang ia temukan hanya sepasang mata yang ragu, bahwa hari esok masih baru.

bahwa sebenarnya yang ia tunggu hanya isak pilu.

Terawang

My photo
Lahir di era 90an di mana Sarah (Si Doel) masih seksi dan tazos masih trendi. Berprofesi sebagai tukang foto keliling. Menggeluti fotografi sejak SMA dengan kamera Nokia. Ritual lain adalah berpuisi.

Followers