Monday, December 31, 2012

Saturday, December 15, 2012

ironi 1

Mimpi akan datang
pada siapa yang ragu,

kenyataan...,

Tidak



"kita selalu berguru
pada hidup
yang selalu bergurau"



Kiblat

Kita tak pernah sependapat tentang kiblat
Kamu yang pernah selamat
aku yang selalu tersesat






Lusa

Seringkali,
Kita menjadi orang yang lebih menyukai kemarin
daripada esok.



Friday, October 19, 2012

Setelah Api Padam


Ini cerita lama yang belum sempat saya bagikan kepada kawan-kawan ketika saya diberi kesempatan magang sembari liputan lapangan di harian Jakarta Globe. Simak.

Jakarta pada momen lebaran 2012 lalu sempat membara, dalam arti harafiah. Daerah perumahan semi permanen kerap jadi sasaran api kala itu. Terhitung sekitar 139 kasus kebakaran terjadi antara bulan Juli-Agustus (sumber: tribunnews.com). Alasannya beragam; rumah yang ditinggal mudik, peralatan elektronik dan kompor meleduk, arus pendek listrik, sampai isu pilkada DKI.

Tidak semua lokasi saya liput, tentu. Namun, ada dua tempat yang sempat saya sambangi, yaitu kawasan Karet Tengsin dan Kapuk Muara. Sayang tidak 'Pas' tapi 'Pasca', takapalah.

Memang tak ada gambar menegangkan pemadam kebakaran bertarung melawan api atau drama isak tangis warga, tapi saya toh percaya masih ada kisah setelah api padam...

#Ps Kalimati, Karet Tengsin
pasca kebakaran 10 Agustus 2012

Lokasi yang diduga menjadi sumber api.



Tumpukan baju sumbangan dari relawan.



Di antara puing bangunan



Kaki bocah yang asik bermain di sisa (yang mungkin) rumahnya.



Membangun lagi kenangan



#Kapuk Muara
Pasca kebakaran 22 Agustus 2012
diperkirakan 300 rumah hangus.


Petugas dinginkan lahan



Warga musti berhati-hati ketika mencari/menyelamatkan perkakas rumah mereka, pasalnya selain merupakan daerah rawa (sewaktu-waktu bisa jeblos), beberapa tempat pijakan masih memerangkap panas pasca kebakaran.



Mengungsi di lapangan.



Si pemilik rumah.



Main



Jelaga dalam jendela




   

Friday, July 20, 2012

Berburu Pagi di Gading Serpong


Selasa 5.30 pagi, langit sudah biru, sedang saya
berkendara cepat mengejar terbit matahari. Melewati
rangka-rangka gedung dan siluet lengan-lengan
traktor, menyirat nuansa kota baru yang berkembang
(terlalu) cepat, Gading Serpong.

Pagi itu yang saya buru adalah gerombolan pohon
(yang saya yakini adalah) Pinus untuk menemani
latar matahari terbit.

Lokasi tujuan saya adalah sebuah lahan bakal perumahan.
Bila mengambil jalan dari Christ Cathedral, di depan komplek The Spring 
Anda akan menemukan perempatan, terus lurus sampai
di persimpangan ke dua, lalu belok kiri di depan Syafana Islamic School.
Jika Anda menemukan pohon-pohon pinus, berarti Anda telah sampai.
  






















Bila Anda beruntung (bila belum menjadi bangunan beton),
berjalanlah ke Selatan (Timur pada matahari),
di sana Anda akan menemukan pemandangan berbeda.
Gerombolan pohon mencuat di atas tanah sisa kerukan
berpadu dengan hamparan tanah merah dan jejak traktor,
memberi nuansa tersendiri.

Jika memanjat sedikit ke arah bukit di Timur
Anda bisa menemukan sudut pandang lain
untuk memotret matahari terbit.
Pemandangan hamparan rawa dengan halimun
membentuk bayang-bayang bukit serta atap-atap rumah.











Selalu ada ucapan trima kasih untuk setiap perjalanan. Kali ini penulis menghaturkan banyak2 trima kasih kepada kawan yang sudah rela motornya dipinjam pagi-pagi sekali dan offroad lagi, Ucok. *lalu tepuk tangan*


Motor pinjaman dari Ucok.
Bukan Ucok.


Terawang

My photo
Lahir di era 90an di mana Sarah (Si Doel) masih seksi dan tazos masih trendi. Berprofesi sebagai tukang foto keliling. Menggeluti fotografi sejak SMA dengan kamera Nokia. Ritual lain adalah berpuisi.

Followers