Pada September yang singkat, saya akhirnya boleh kembali ke kota Batam, Kota tempat saya lahir. Menempuh perjalanan sektitar 1 jam 50 menit dari Jakarta, saya sampai di Bandara Hang Nadim Batam. Keluarga sudah menunggu, (hampir) satu tahun itu bikin rindu.
Setelah dibrondong pertanyaan itu ini, cerita ini itu, akhirnya saya boleh merenung barang sebentar. Ternyata saya tak pernah benar-benar kenal dengan tempat ini. Kota industri yang cerobong asapnya pun belum pernah saya jumpai (memang selalu crobong ya?).
Maka hari-hari berikutnya sembari reuni, saya boleh curi sedikit waktu untuk berkendara sendiri melihat Batam dari kaca mata sendiri - sialnya tanpa panduan arah.
Pergi tanpa panduan tak terlalu buruk. Melihat kondisi internet yang lambatnya tidak stabil - kadang hanya lambat, kadang keterlaluan - saya malas klik sana sini. Buat saya cara seperti ini - entah mengapa - selalu menyenangkan (meski tak efektif dan efisien).
Sambil mengemas kamera, saya cari waktu sore karena tak bisa bangun pagi atau karena warna senja selalu magis bila dipasangkan dengan objek apapun. Target saya cuman satu mengabadikan apapun yang saya lewati.
Tanpa arah tujuan, saya sampai di waduk - yang kemudian saya ketahui bernama- Sungai Ladi. Di depan pagar berduri -pintu masuk- saya tawar menawar dengan satpam. "Tak ada izin tak boleh masuk." katanya. "Tapi kalau koko mau motret, bisa dari jembatan." beliau dengan informatif memberi arah tujuan. Trimakasih saya ke sana.
Tanpa basa-basi saya potong jalan, lawan arah (sesuai instruksi satpam, sialan). Saya berpapasan dengan pemotor kencang berperawakan aparat -melotot ke arah saya- sambil senyum saya bilang "halo!" Saya boleh belajar bahwa orang musti ramah... satpam sialan.
Berkendara mengelilingi waduk tak berapa lama saya sampai. Letaknya membelah waduk menjadi dua selatan - utara. Sudah macam jalan tol, mobil motor kencang-kencang. Yang saya jumpai bikin saya senang. Ujung ke ujung saya lihat hijau yang lebat. Hutan lindung yang masih terjaga di Batam. Saya lupa entah hutan Temiang atau Muka Kuning. Di langit barat ada matahari sore.
Batam boleh bangga atawa lega masih punya hutan segini hijau (disamping pengerukan pasir ilegal yang tengah marak).
Tapi warganya sendiri tampak buru-buru. Tergesa, tidak selow. Tidak menikmati. Semoga mereka tak menyesal nanti.
Mereka yang kalian kata kampungan boleh punya selera bagus. Di bawah jembatan ini tempat mereka biasa nongkrong atau pacaran atau sama seperti saya sekadar menikmati matahari tenggelam.
Setelah puas lihat air -putar sedikit- saya lihat tulisan Pura Agung Amertha Bhuana. Masuklah saya mana tahu ada apa, paling ada pura. Di samping tangga masuk ada rumah makan. Saya pilih jalan kecil di sebelah Rumah makan tadi. Masuk saya disambut anjing galak,,, 2 anjing galak dengan bapak-bapak berperawakan linglung, saya tinggal saja. Tapi itu motor saya parkir juga di pinggir-pinggir. Di hadapan saya ada bangunan pura Agung tadi. Cantik, dikelilingi bunga kamboja.
Inilah Pura Agung Amertha Bhuana, yang setelah saya gugel, adalah Pura Hindu satu-satunya di Batam diresmikan pada Juni 2004 silam. Saya kurang paham dengan arsitekur pura, tapi disebutkan bahwa pelinggih Pura Amertha Buana (bangunan tertinggi di pura) dibuat setinggi 21 m lebih. Ternyata proses pendiriannya tidak sederhana cendrung filosofis-mistis. ceritanya di sini: BaliPos .
Apapun itu, buat saya, tiap mengunjungi tempat-tempat ibadah, selalu ada perasaan damai juga takjub. Bagaimana manusia mendefinisikan kepercayaan mereka masing-masing lewat sebuah arsitektur, yang megah atawa sederhana, adalah luar biasa nun penuh rahasia.
(kalau ada yang mengerti menyoal arsitektur Pura, sangat senang jika Anda bisa berbagi di sini)
![]() |
| Ornamen Naga |
![]() |
| Pintu Masuk |
Perjalanan berlanjut. Waktu itu hari sudah sore sekitar pukul 17.00. Setelah memacu motor cukup jauh melewati jalan lurus yang menjemukan. Karna hari semakin gelap, saya berniat menyudahi hari itu. Tapi apa yang tak sengaja saya temukan adalah luar biasa. Di tanah lapang ada salib yang bertumpuk-tumpuk, Pemakaman. Atapnya langit sore yang kemerahan. Nama tempat itu 'Pemakaman Bukit Aman', letaknya di Sei. Temiang.
![]() |
Langit mulai gelap sekitar pukul 18.00 saya beranjak pulang.
Tangerang, Oktober 2013








No comments:
Post a Comment